Showing posts with label KaSubdit. Show all posts
Showing posts with label KaSubdit. Show all posts

Saturday, January 18, 2020

Dr. Rosmini Day, Dr. Hernani

7. Dr. Rosmini Day Juni 1999 - Feb 2002

Pada tahun 1998 Indonesia telah jatuh ke dalam krisis ekonomi. Periode ini sangat sulit dan kemudian menyebabkan Indonesia ini jatuh ke ketidakpastian lebih lanjut. Perubahan Presiden dan Kabinet mempengaruhi kebijakan pengendalian kusta. staf antar-departemen yang terlibat dalam program pengendalian kusta digantikan. Para staf baru kurang memahami informasi yang cukup dari mantan staf mengenai kusta. Selama masa Presiden Abdul Rahman Wahid (Gus Dur) Departemen Sosial ditutup. Ini sangat terpengaruh terhadap rehabilitasi penderita kusta. Akibatnya tidak ada lagi kegiatan antar sektor. Pada saat yang sama pemerintah tidak bisa memberikan cukup dana. Untungnya masih ada LSM internasional seperti NLR, SMHF, TLMI dan WHO membantu untuk penyelamatan.
Dr. Rosmini terus implementasi MDT didasarkan pada rencana dan strategi yang telah dibuat sebelumnya, terus mengikuti rekomendasi WHO seperti untuk melanjutkan percepatan eliminasi kusta tahun 2000, melalui LEC, SAPEL, dan LEM. Pengobatan kasus MB disingkat 24 bulan menjadi 12 bulan.
Tujuan dari eliminasi kusta telah dicapai pada Juli 2000 di Tingkat Nasional. Tapi masih sekitar 19.000 kasus baru ditemukan per tahun.
8. Dr. Hernani: Maret 2002 - April 2008
Mengikuti kebijakan pemerintah, Sub-Direktorat Frambusia dikombinasikan dengan Sub-Direktorat Kusta menjadi Sub-Direktorat Kusta dan Frambusia.
Eliminasi kusta telah dicapai di tingkat nasional pada bulan Juli 2000, tetapi beberapa provinsi dan kabupaten masih memiliki prevalensi tinggi. Target Eliminasi Kusta sekarang harus memperluas ke tingkat provinsi dan kabupaten.


Berdasarkan kondisi yang ada, strategi eliminasi juga diperlukan revisi. Ada kebutuhan untuk membuat pedoman untuk eliminasi kusta di daerah endemik rendah dan tinggi.
Pada tahun 2003, lebih dari 60% dari provinsi dan kabupaten telah mencapai eliminasi (17 provinsi dengan 315  kabupaten ). Sejak Indonesia melaporkan bahwa eliminasi kusta telah dicapai pada tahun 2000, persepsi Pemerintah adalah bahwa kusta bukan masalah kesehatan masyarakat lagi. Oleh karena itu alokasi anggaran dari Pemerintah untuk pengendalian kusta menjadi kurang dan kurang terus. Pada kenyataannya beban kusta masih tinggi, oleh karena itu advokasi kepada pihak berwenang perlu dilakukan. Salah satu hasil dari advokasi adalah bahwa pemerintah membentuk Aliansi Nasional untuk Eliminasi Kusta ( Aliansi Nasional Eleminasi kusta - ANEK ) untuk tingkat Nasional dan Daerah – ADEK Provinsi. Para anggota ANEK terdiri dari Gubernur provinsi-provinsi yang belum mencapai eliminasi kusta.
Indonesia berpartisipasi dalam Kusta Kongres Kusta  Internasional Salvador Brasil (2002) dan Hyderabad India (2008). Masalah-masalah rehabilitasi kusta dan hak asasi manusia adalah program penting untuk dikembangkan bersama dengan pengendalian kusta.
Dr Hernani pensiun sejak Mei 2008, maka Dr Christina Widaningrum diganti sebagai penjabat kepala Subdirektorat Pengendalian Kusta dan Frambusia. Data yang dikumpulkan periode 1990-2007, menemukan bahwa 349.013 orang telah disembuhkan atau dibebaskan dari pengobatan (Realise From Control-RFT) dan terdaftar 26.237 penyandang cacat tingkat 2.  
PR sudah turun dan eliminasi kusta pada tingkat nasional telah dicapai pada Juli 2000, namun beban kerja kusta di Indonesia masih tinggi.
 · Orang-orang setelah RFT masih membutuhkan perawatan medis karena yang cacat masih perlu direhabilitasi fisik.    
· Sebagian besar penderita kusta yang miskin  
· Anggaran pemerintah terbatas  
· Setelah krisis di Indonesia Komite Pengendalian Kusta Inter-Sektor (dibentuk pada tahun 1979) tidak berfungsi lagi.  
Perawatan dan Rehabilitasi
Perawatan setelah RFT dan rehabilitasi harus dilakuan bersama dengan program eliminasi. Pada saat ini NLR memperpanjang dukungan kepada Departemen Kesehatan dengan Program Perawatan dan Rehabilitasi.
Program Perawatan dan Rehabilitasi terdiri dari meningkatkan kemampuan melalui pelatihan bagi petugas kesehatan yang bekerja di bidang kusta, dukungan untuk bedah rekonstruksi, penyediaan alat pelatihan dalam perawatan diri dan pembentukan kelompok perawatan diri, dan rehabilitasi sosial ekonomi.
NLR mengirim 7 teknisi ortopedi dari 4 rumah sakit kusta (Daya, Sumberglagah, Sungai Kundur dan Pulau Sicanang) untuk pelatihan sepatu khusus dan prosthetics ke Vietnam. Ke 4 rumah sakit kemudian mulai memproduksi prostesis dari polypropylene dan alat bantu cacat lainnya. Semua jenis alat bantu diberikan secara gratis kepada orang-orang yang pernah mengalami kusta yang membutuhkan.
Self Care Groups
Dalam kelompok perawatan diri (SCG) penderita kusta datang bersama-sama dengan tujuan membantu  satu sama lain terutama dalam pencegahan dan pengurangan cacat, dan dalam menemukan solusi untuk masalah-masalah yang mereka hadapi sebagai akibat dari kusta.


                                                            
Konsep SCG ditepakan dengan referensi negara-negara seperti Ethiopia dan Nigeria. Kelompok pertama di Indonesia dibentuk di Jawa Barat dan Jawa Timur 1999. Sejak tahun 2003, SCG telah sistematis dikembangkan dan dipromosikan di seluruh Indonesia. Setiap tahun dilakukan penambahan kelompok. Kegiatan anggota belajar merawat diri dan berlangsung sampai semua anggota percaya diri dalam berlatih perawatan diri sehari-hari di rumah. Kelompok bisa berjalan bertahun-tahun, kadang-kadang menambahkan kegiatan lain seperti arisan atau proyek yang menghasilkan pendapatan. Hasil keseluruhan dari SCG dalam mengurangi kecacatan sudah sangat baik, dan banyak orang juga berhasil mengurangi masalah sosial mereka berkat percayaan diri yang meningkat. Kebanyakan SCG berbasis di Puskesmas setempat karena ini tampaknya lebih disukai oleh kedua anggota dan fasilitator. Kelompok lain dibentuk di pemukiman kusta, dan beberapa beberapa kelompok bertemu di desa mereka sendiri di tengah-tengah masyarakat yang terkena kusta.  Opsi kemudian ini sering disukai oleh LCP karena mempromosikan integrasi, tetapi masih sulit dicapai karena masih ada stigma umum.
KUSTA DI INDONESIA Daftar isi >>>

Dr. M.R. Teterissa, Dr. Yamin Hasibuan

5. Dr. M.R Teterissa 1985 - September 1989
Sub-Direktorat Pemberantasan Kusta masih dipertahankan namanya tapi Direktorat Jenderal P4M sekarang menjadi Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan - P2M PL  (Communicable Diseases Control  & Environtment Health - CDC&EH).
Pemberantasan Kuta Indonesia masih dilakukan dengan menggunakan DDS mono tapi sudah dimulai  program MDT secara bertahap. Dengan kemajuan Program MDT di Indonesia, Lembaga Donor seperti Sasakawa Memorial Health Foundation, The Leprosy Mission, Ciba Geigy Leprosy Fund, dan Nederlandse Stichting voor Leprabestrijding (NSL) meningkatkan bantuan mereka. Tercatat penderita kusta pada waktu itu 126.221, PR 8,1 per 10.000 penduduk pada tahun 1985. Jumlah ini menurun menjadi 112.233 dengan PR 6,9 per 10.000 penduduk selama masa akhir Dr. Teterissa pada tahun 1989.
6. Dr. Yamin Hasibuan periode 1989-1999
Pada tahun 1991, Negara Anggota dari WHO, melalui resolusi di Majelis Kesehatan Dunia World Health Assembly (WHA 449), menyatakan niat mereka untuk menghilangkan kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 2000 (program eliminasi kusta). Menurut WHO pengertian eliminasi ialah prevalensi kusta di bawah 1 per 10.000 ponduduk, sehingga tidak merupakan masalah kesehatan masyarakat.  

Setelah deklarasi resolusi WHA, Indonesia berkomitmen untuk eliminasi kusta di Indonesia pada tahun 2000. Indonesia berpartisipasi dalam Konferensi Internasional tentang Eliminasi Kusta, di Jakarta (1991), Orlando (1993), Hanoi (1994), Beijing (1998).
Pada Konferensi Internasional di Hanoi, Vietnam, Juli 1994 untuk pertama kali secara aklamasi oleh seluruh peserta mengeluarkan Deklarasi (Deklarasi Hanoi). Indonesia juga berpartisipasi dalam Konferensi Internasional ke-2 pada Eliminasi Kusta diselenggarakan di New Delhi 11-13 Oktober 1996 hingga memperkuat komitmen deklasi Hanoi. Indonesia kemudian menetapakan tujuan Nasonal Program Eliminasi Kusta, sejalan dengan target global yaitu PR menjadi kurang dari 1 per 10.000 penduduk pada tahun 2000 (EKT 2000).
Strategi Nasional EKT 2000 di Indonesia dirumuskan berdasarkan rekomendasi dari workshop Leprosy Control Programme Manger di New Delhi 07-12 Februari 1993.
Dalam pelaksanaan semua strategi dan kegiatan, masalah yang paling penting adalah untuk memastikan bahwa obat MDT cukup yang tersedia di semua fasilitas kesehatan, dan bahwa semua kasus yang ditemukan diberi pengobatan MDT. Untuk daerah sulit diakses ditangani dengan program khusus (Proyek Aksi Khusus untuk Eliminasi: Special Action Project for Elimination of Leprosy - SAPEL). Perumusan peran semua sektor dan LSM di Indonesia tentang klarifikasi jenis dukungan dan daerah yang dibantu, mobilsasi sumber daya yang dibutuhkan terjamin tepat waktu.
Juga sangat penting adalah advokasi dan de-stigmatisasi kusta di masyarakat. Untuk tujuan ini beberapa acara telah dilakukan di Indonesia.
Pada tahun 1988, Indonesia melaksanakan Pekan Olah Raga Penyandang Kusta Nasional (PORPENTANAS) untuk orang-orang yang pernah mengalami kusta di Tangerang, yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit Kusta Sitanala (Direktur: Dr. Ign. Hariyanto) bekerjasama dg Depatemen Sosial (Mensos: Siti Hardiyanti Rukmana..Mbak Tutut).

Di Istana Negara, dalam rangkaian PORPENTANAS, 1988

Rangkain acara Poprpentas presiden Soeharto berkenan menerima orang yang pernah mengalami kusta di Istana Negara, berjabat tangan dengan mereka. Presiden Soeharto peduli, sehingga beliau memeritahkan untuk menghilangkan penyakit kusta di Indonesia. Peristiwa ini menggaung ke se antero dunia. Telah menarik perhatian Para Tokoh dan Donatur. 


Mendoakan dengan penuh kasih sayang 
Mr. Ryoichi Sasakawa mengunjungi Rumah Sakit Kusta Sitanala Tangerang pada tahun 1988.
Beliau adalah pemilik The Sasakawa Memorial Health Foundation (SMHF) Jepang, dermawan terkenal...Donatur Besar membantu Program Penanggulangan Kusta di beberapa negara di dunia termasuk Indonesia. 



Pada tahun 1989, Lady Di (Princes of Wales) mengunjungi Indonesia. Selama kunjungannya ia mengunjungi Rumah Sakit Kusta Sitanala, berjabat tangan dan berbaur dengan orang-orang yang pernah mengalami kusta. Acara ini sangat membantu dalam advokasi eliminasi kusta di Indonesia.
Pada tahun 1990, Pospentanas kedua untuk penderita kusta diadakan di Ujung Pandang (Makassar).
Ciba Geigy Leprosy Fund medanai produksi 2 film kusta dokumenter berjudul 'Ikan Sehat Tetap Sehat' dan 'Bapakku Garang Bapakku Sayang'. Penulis (Dr. Yamin Hasibuan) ikut membintangi film tsb, berperan sebagai Dr. Harun.  Film itu adalah salah satu bentuk pesan tentang Pendidikan Informasi dan Komunikasi (IEC) tentang penyakit kusta: apa itu kusta, bagaimana diagnosis dan pengobatan.
Hasil Program Pemberantasan Kusta:

Peta di bawah ini ditunjukkan dengan warna merah, kuning, hijau dan putih, penyebaran endemisitas kusta di Indonesia dari tinggi ke rendah. Bisa kita lihat pada tahun 1990 warna merah (hiperendemis) masih mendomonasi. Pada tahun 1995 sudah menurun secara bermagna. 

Hasil pelaksanaan MDT dari tahun 1990 dan 1995 ditunjukkan pada peta di bawah ini




Untuk mempercepat eliminasi kusta, Indonesia juga melakukan kampanye Eliminasi Kusta 2000 (LEC), dan Monitoring Eliminasi Kusta (LEM) untuk menilai kualitas program.

Kegitan Pokok Program Pengendalian Kusta:
1. Menetapkan tujuan pengendalian kusta.
Menurunkan angka kesakutan kusta menjadi kurang dari 1per 10.000 penduduk di wilayah Indonesia, sehingga kusta tidak merupakan masalah kesehatan masyarakat.
2. Penemuan kasus sedini mungkin
3. Pengobatan sedini mungkin
4. Pengobatan menggunakan MDT, diberikan secara gratis
5. Melaksanakan rehabilitasi paripurna
6. Membentuk grup perawatan secara mandiri (Self Care Group)
7. Mengorganisasikan semua bantuan dari donatur
8. Penyuluhan Kesehatan.
- Kusta sama halnya dengan penyakit menular lain yang bisa diobati dan disembuhkan
- Hilangkan gagal faham tentang penyakit kusta.
9. Advoksi
Advokasi utk para pengambil kebijakan di Pemerintah Pusat maupun Daerah, Tokoh2 masyarakat. Permasalahan orang pernah mengalami kusta masih besar. Orang yg pernah mengalami kusta harus mendapat perlakuan yg sama sebaga sebagai warga negara. Stigma dan Diskriminasi harus dihilangkan. Tindakan Diskriminatif terhadap orang yang pernah menalami kusta adalah pelanggaran HAM.  


KUSTA DI INDONESIA Daftar isi >>>

Dr. M. Adhyatma, Dr. Andy A. Louhepessy

5. Dr M. Adhyatma: 1970 - 1974
(Sebelum meninggal dunia, jabatan terakhir adalah Menteri Kesehatan RI pada Kabinet Pembangunan)
Selama periode Dr. Adhyadma, Program Pengendalian Kusta Nasional berada di bawah struktur organisasi Direktorat Jenderal Pengembangan Kesehatan. Kemudian ia dikenal sebagai Direktorat  Jenderal Pencegahan Dan Pemberantasan Dan Pembasmian Penyakit Menular (P4M / Krida Nirmala).
Di bawah Pemerintah baru Presiden Soeharto pembangunan di Indonesia secara sistematis dirancang dalam rencana 5 tahun. Rencana 5 tahun pertama tetap dari tahun 1970 sampai 1974. Pengendalian Kusta dimasukkan dalam Rencana 5-tahun pertama ini. Pada saat itu (1970) jumlah total kasus kusta yang terdaftar adalah 53.274 di Indonesia, dengan prevalensi (PR) dari 4,4 per 10.000 penduduk. Pada akhir periode Dr Adhyatma pada tahun 1974, dilaporkan bahwa ada 93.395 kasus kusta dengan PR 7,4 per 10.000 penduduk.
6. Dr Andy A. Louhenapessy: 1974-1985 
(Jabatan terakhir adalah konsultan kusta WHO South East Asia Region di New Delhi India).
Kantor Pengendalian Kusta berubah nama menjadi Sub-direktorat Kusta di bawah struktur organisasi Direktorat P4M.
Metode pemberantasan untuk kusta menjadi lebih jelas. Pengobatan dengan mono terapi DDS terus. Pada periode pengobatan dini, khasiat DDS cukup baik. Terapi mono DDS terbukti sangat baik di Bali di bawah bimbingan Dr Ichsan dan banyak orang ditemukan dan disembuhkan. Kelemahannya adalah bahaya orang mulai bosan minum obat seumur hidup ini. Akibatnya, ketika obat tidak diambil secara teratur dan dengan dosis kecil, resistensi terhadap DDS akan terjadi. Pada tahun 1981 Komite Ahli WHO merekomendasikan pengobatan kusta menggunakan kombinasi dari Rifampicin, Lamprene dan DDS (Multidrug Therapy - MDT).
Indonesia mengadopsi penggunaan obat gabungan ini pada tahun 1982 pertama dalam skala kecil karena tidak semua Puskesmas memiliki dokter - yang diperlukan untuk pengawasan saat Rifampisin digunakan. Dalam pengobatan MDT Indonesia selalu memenuhi rekomendasi WHO. Rifampisin dan DDS diberikan untuk PB kusta selama 6  bulan dan untuk jenis MB kombinasi rifampisin, Lamprene dan DDS selama dua tahun.
Sejak kemerdekaan Indonesia, Indonesia secara aktif berpartisipasi dalam Kongre Kusta International seperti Havana (1948), Madrid (1953), Roma (1953), Tokyo (1963), London (1938), Bergen (1973), Kuala Lumpur (1982) , dan New Delhi (1984). Suatu rekomendasi dari kongres mempengaruhi metode  pengendalian kusta di Indonesia.
Kegiatan utama Pemberantasan Kusta ialah penemuan kasus, pengobatan dan pengawasan kasus (case holding), rehabilitasi, pendidikan kesehatan, pelatihan pekerja kusta, pencatatan dan pelaporan.  Organisasi pengendalian kusta dengan di pusat tingkat, provinsi, kabupaten dan Puskesmas sekarang menjadi lebih jelas. Dokter dilatih di provinsi disebut Dokter Kusta Provinsi, Paramedis terlatih dalam kusta dan terlibat pengendalian kusta di tingkat provinsi disebut Wasor kusta Provinsi sedangkan di tingkat kabupaten mereka disebut Wasor kusta Kabupaten. Petugas Kesehatan melakukan kegiatan pengendalian kusta di Puskesmas disebut Juru Kusta.
Pelatihan bagi pekerja kusta ditingkatkan. Dengan bantuan dari Denish Save the Children Organization (DSCO) Pusat Pelatihan Nasional untuk Kusta didirikan di Ujung Pandang pada tahun 1975. Indonesia menetapkan kebijakan pengendalian kusta sebagai berikut: · kegiatan pengendalian kusta yang terintegrasi dalam layanan kesehatan umum · Kemoterapi disediakan gratis · Regimen terapi mengikuti rekomendasi WHO · Orang yang terkena kusta tidak harus diisolasi.
Pada tahun 1975 jumlah dilaporkan penderita kusta adalah 99.450, dengan Prevalence Rate (PR) dari 7,5 per 10.000 penduduk. Pada akhir masa Dr Andy pada tahun 1985 jumlah kasus adalah 125.300 dengan PR 8,2 per 10.000 penduduk.


KUSTA DI INDONESIA Daftar isi >>>

Dr. M. Arief Dr. Soepomo, Dr. Kamal Mahmud

2. Dr M. Arief: 1956 - 1962
Selama periode Dr. M. Arief, Leprosy Control Research Institute (Lembaga P3) terus bekerja sama dengan Program Pengendalian Kusta. Ia melanjutkan kebijakan pengendalian kusta melalui klinik khusus (Balai Pengobatan kusta) di seluruh negeri.
3. Dr Soepomo HT 1963-1965
Ketika Leprosy Control Research Institute (Lembaga P3) ditutup Mei 1965 semua kegiatannya  diintegrasikan dalam Penegendalian Kusta,  yang kemudian dikenal sebagai Pengendalian Kusta Nasional. Kebijakan Pengendalian kusta tetap dilanjutkan melalui klinik khusus (BP Kusta)
4. Dr Kamal Mahmoed: 1966 - 1969
Program Pengendalian Kusta Nasional ditempatkan di bawah Direktorat Jenderal Pengembangan Kesehatan (Direktorat Jenderal Bina Waluya).
Hingga 1968 penderita kusta yang dirawat di klinik kusta khusus, dipisahkan dari orang-orang dengan penyakit umum. Mono DDS masih digunakan untuk pengobatan.
Pada tahun 1969 kebijakan pemerintah menetapkan bahwa dokter harus melakukan pekerjaan wajib di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), Sejak itu, pengobatan kusta secara bertahap terintegrasi dalam layanan Puskesmas dan klinik kusta khusus ditutup satu persatu. Penderita kusta tidak lagi disolasi.

KUSTA DI INDONESIA Daftar isi >>>

Dr. H. Boenyamin

1. Dr. H. Boenyamin: 1950 - 1959
Pada tahun 1950 Dr. H. Boenyamin menjadi kepala Pemberantasan Kusta Nasional, berkedudukan di Jakarta. Selain itu Dr. Boenyamin juga diangkat menjadi kepala Pusat Penelitian Kusta, yang kemudian berubah nama menjadi Lembaga Penelitian Pemberantasan Penyakit Kusta – Lembaga P3 (“The Leprosy Control Research Institute”) yang terletak di Jalan Kimia di Jakarta.
Indonesia memulai pengobatan untuk kusta mono terapi dengan Diamino Diphenil sulfon (DDS) pada tahun 1951. Pengobatan dengan DDS diberikan melalui klinik khusus. Karena pengobatan kusta ditangani dengan cara yang khusus, semua staf yang terlibat harus menjalani pelatihan khusus. Sejak 1953 semua staf dan petugas pada klinik khusus kusta diberi pelatihan di lembaga P3, sedangkan pelatihan untuk program rehabilitasi diadakan di Rumah Sakit Kusta Sitanala Tangerang.
Rumah Kusta Sitanala didirikan pada tahun 1951. RS ini adalah pindahan dari Rumah Sakit Kusta Lenteng Agung’ yang terletak 12 km sebelah Selatan dari Pusat Kota Jakarta. Rumah Sakit dipimpin oleh Dr. Vander Heide (seorang dokter Belanda) ikut pindah ke Tangerang sekitar 25 km Barat Jakarta.
Selama periode ini rumah sakit Kelet di Jawa Tengah juga ditingkatkan menjadi Rumah Sakit Kusta dan dari tahun 1951 dan seterusnya orang-orang dengan penyakit umum tidak diterima lagi. Pada saat yang sama, semua orang terkena kusta yang dirawat di RSKusta Plantoengan dipindah ke RS Kusta Kelet. 
Sistem pencatatan dan Pelaporan diperkenalkan tentang jumlah kasus terdaftar dan jumlah kasus dengan cacat. Dr Boenyamin menyusun laporan ini dan membuat peta kusta di Indonesia.


KUSTA DI INDONESIA Daftar isi >>>